Senin, 18 Februari 2013

Infrastruktur di Natuna Masih Dikeluhkan



NATUNA – Puluhan kepala desa di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau yang tergabung dalam Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kabupaten Natuna mengeluhkan minimnya infrastruktur di daerah mereka, padahal Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Natuna terbesar di Provinsi Kepri yakni 1,6 triliun rupiah tahun 2013 ini.

Wakil Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Natuna, Yohanis mengatakan, Kabupaten Natuna memiliki anggaran pendapatan dan belanja yang paling besar dari seluruh kota dan Kabupaten di Provinsi Kepri yakni 1,6 triliun rupiah pada tahun ini. Ironisnya, kondisi infrastruktur di sebagian besar wilayah Natuna masih sangat minim seperti jalan, air bersih, listrik dan lainnya.

“Sangat disayangkan, Natuna sebagai daerah penghasil minyak dan gas utama di Indonesia dengan APBD yang cukup besar namun infrastrukturnya masih sangat minim,” katanya, Rabu (30/1).

Ditambahkan, pada tahun 2011 lalu, Badan Pembangunan Masyarakat Desa (BPMD) Kabupaten Natuna diminta untuk membuat rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes) dan rencana kerja prioritas desa (RKPDesa). Hal itu dalam rangka peningkatan kinerja desa dan sebagai bahan rujukan desa dalam menentukan arah pembangunan desa selama lima tahun kedepan. Tetapi nyatanya setelah rencana disusun, sampai saat ini tidak ada program yang direalisasikan oleh Pemkab Natuna.

Oleh karena itu, BKAD Natuna mempertanyakan komitmen Pemerintah daerah dalam membangun Natuna dan mempertanyakan besaran  alokasi  anggaran  sestiap kecamatan yang diperuntukan bagi pembangunan desa dan kecamatan tahun anggaran 2013.

“Setiap tahun anggota DPRD selalu mengadakan reses dengan mengunjungi sejumlah daerah dan masyarakat menyampaikan aspirasinya, namun tidak ada aspirasi yang direalisasikan,” katanya.

Ketua DPRD Natuna Hadi Candra meminta kepada seluruh kepala desa untuk bersabar, karena  pembahasan anggaran pembangunan tidak serta merta bisa diploting secara bebas. Ada aturan yang mengatur dan harus dilaksanakan. Oleh karena itu, pernyataan sikap sejumlah Kepala Desa di Natuna harus di tanggapi terlebih dahulu oleh pihak eksekutif.

"Saya tidak bisa mengatakan panjang lebar tentang apa yang disampaikan rekan-rekan kepala desa, karena saya tidak ingin ada pihak yang disalahkan, jadi supaya tanya jawab ini menemui jalan keluar, maka saya mengundang bakap kepala desa hadir kembali pada hari kamis. Dalam rapat tersebut saya akan mengundang bapak Bupati Natuna guna menjelaskan kenapa anggaran desa tidak ada peningkatan," kata Candra.

Dijelaskan, dalam pembahasan APBD, DPRD tidak bisa mengacu satu persatu RPJMdesa, karena PJMDesa itu sudah tercantum di usulan TAPD (tim anggaran perencana daerah), namun DPRD mengacu kepada RPJM Daerah.

Menurut dia, tidak hanya pembangunan desa yang menjadi prioritas, tetapi DPRD dan Pemkab juga punya prioritas pembangunan yang mesti dilaksanakan, seperti pembangunan incluve civil (bandara sipil), water front city, gedung DPRD, pasar moderen, pembangunan pabrik tapioka serta pabrik kelapa sawit. Beberapa program tersebut harus segera diselesaikan karena menjadi program prioritas Pemda Natuna. (gus).

Kepri Bangun Monumen Bahasa Melayu



TANJUNG PINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan membangun monumen Bahasa Melayu senilai 12 miliar rupiah pada tahun ini juga, dengan tujuan untuk melestarikan bahasa Melayu asli yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepri, Arifin Nasir mengatakan, Pemerintah Provinsi Kepri telah menganggarkan dana sebesar 12 miliar rupiah untuk pembangunan monumen Bahasa Melayu yang dibagi dalam dua tahap pembangunan. Tahap pertama menggunakan APBD tahun 2013 sebesar 6 miliar rupiah dan tahun berikutnya sebesar 6 miliar rupiah.

“Lokasi pembangunan Monumen Bahasa Melayu masih dikaji dan ada beberapa pilihan tempat seperti di Dompak sebagai pusat pemerintah provinsi Kepri atau di Pulau Penyengat yang merupakan daerah utama lahirnya bahasa melayu dan beberapa daerah lainnya,” katanya, Selasa (29/1).
Untuk menentukan lokasi pembangunan monument, Pemprov Kepri menampung masukan dari sejumlah tokoh masyarakat, budayawan, seniman dan juga generasi muda di Provinsi Kepri. Dari pertemuan yang diadakan dengan sejumlah tokoh masyarakat tersebut terdapat beberapa alternative tempat yang bisa dijadikan pembangunan monument seperti Pulau Penyengat, Dompak dan Bukit Kursi.

Tokoh Masyarakat dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Raja Alhafiz mengatakan,  bila Monumen Bahasa Melayu ditempatkan di Pulau Dompak dinilai kurang pas karena sejarah bahasa berasal dari Pulau Penyengat sehingga alangkah baiknya jika monumen itu dibangun di Pulau Penyengat.

“Pulau Penyengat merupakan wilayah cikal bakal lahirnya Bahasa Indonesia dan sebagai pemersatu Bangsa Indonesia,” katanya.

Pemprov Kepri, kata dia memiliki lahan di Penyengat sekitar enam hektar dan tempat itu bisa dijadikan lokasi pembangunan monument sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pembebasan lahan.

Tokoh masyarakat Kepri lainnya, Huzrin Hood mengatakan, pengerjaan monumen itu telah dianggrakan di APBD tahun 2013 dan telah dibuat Detail Engineering Design (DED) nya sehingga sulit untuk dibatalkan. Hanya saja, masyarakat Kepri harus bersatu terlebih dahulu menentukan lokasi pembangunan monument. (gus)

Harga Sembako di Kepri Melonjak Akibat Cuaca Buruk



BATAM – Harga Sembilan bahan pokok khususnya daging sapi, ayam, telor, sayur mayur dan ikan di sejumlah pasar tradisional dan supermarket Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan hingga 40 persen disebabkan pasokan tersendat akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan, cuaca buruk yang terjadi selama beberapa pekan terakhir di perairan Kepulauan Riau (Kepri) menyebabkan pasokan sejumlah bahan pokok ke Batam dan kota lainnya tersendat sehingga keberadaan barang tertentu seperti daging sapi, ayam, sayur mayor dan ikan menjadi langka. Akibatnya, harga barang tersebut melonjak hingga 40 persen.

“Sebagian besar pasokan bahan pokok di Batam dan sejumlah kota lainnya di Kepri didatangkan dari Jawa, Medan dan sebagian lagi di impor yang didatangkan melalui kapal laut sehingga jika cuaca buruk dan gelombang tinggi menyebabkan kapal tidak bisa melewati perairan Kepri. Akibatnya pasokan tersendat dan harga meningkat,” katanya, Senin (28/1).

Langkanya bahan pokok di Kepri khususnya Batam juga disebabkan sejumlah daerah penghasil seperti di Jawa dan Medan mengalami gagal panen akibat cuaca buruk. Kondisi itu menyebabkan pasokan ke Batam berkurang.

Menurut Amsakar berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional harga Sembako sangat fluktuatif dengan kecenderungan naik setiap dua hari sekali. Misalnya, harga Daging ayam yang biasa dijual 20 ribu rupiah per kilogram menjadi 28 ribu rupiah per kilogram. Daging Sapi yang biasanya dijual 80 ribu rupiah per kilogram, saat ini menjadi lebih dari 100 ribu rupiah per kilogram.

Harga telor ayam sebelumnya, 900 rupiah per butir menjadi 1.400 rupiah per butir, cabe merah yang biasa dijual 18 ribu rupiah per kilogram melonjak hingga 35 ribu rupiah perkilogram. Sementara itu, harga ikan dan sayur mayor lainnya mengalami peningkatan rata rata 25-30 persen.
Kepala Dinas Kelautan Perikanan, Pertanian dan Kehutanan kota Batam, Suhartini mengatakan, sudah menjadi kebiasaan harga Sembako di Batam mengalami peningkatan setiap awal tahun dan menjelang hari raya keagamaan khususnya Idul Fitri. Itu disebabkan sebagian besar pasokan bahan pokok di Batam didatangkan dari luar daerah dan impor.
 
Oleh karena itu, Pemerintah Kota Batam sedang berupaya mengurangi ketergantungan pasokan bahan pokok dari luar dengan cara memberdayakan warga Batam menjadi petani. Untuk itu telah disediakan lahan di Pulau Rempang dan Galang serta pulau lainnya untuk dijadikan lahan pertanian. Sayangnya, belum banyak warga Batam yang tertarik menjadi petani.
 
Untuk menjaga harga bahan pokok tetap stabil, katanya, Pemerintah Kota Batam selalu mengandalkan pada impor, sebab pasokan dari daerah lain sering membutuhkan waktu lama dan harganya juga relatifi lebih tinggi dibanding harga impor.

Berdasarkan Data dari Badan Pengusahaan Kawasan Batam (BP Batam), beberapa produk bahan pokok dan sayur mayor yang di impor antara lain, kedelai yang mencapai 7.715.880 kilogram pertahun, bawang merah 7.294.704 kilogram, apel 4.134.711 kilogram, bawang putih 3.725.624 kilogram.
 
Kemudian, impor wortel sepanjang tahun 2012 sebanyak 3.561.174 kilogram, kentang 3.260.733 kilogram, kacang tanah 2.599.968 kilogram, kentang beku 1.927.861 kilogram, jahe 1.600.745 kilogram, jeruk mandarin 1.555.322 kilogram, pir 1.453.648 kilogram, bawang bombai 1.236.896 kilogram, brokoli 935.070 kilogram, cabai kering 886.181 kilogram, kelengkeng 856.305 kilogram, kubis 625.648 kilogram dan aneka jenis sayuran serta produk pertanian lainya. (gus).

Menhan Resmikan Kapal Perang KRI Beladau 643



BATAM – Menteri Pertahanan dan Keamanan, Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) bernama KRI Beladau 643 di Batam (25/1). Kapal perang itu merupakan kapal ketiga yang dipesan Kementrian Pertahanan dari perusahaan dalam negeri PT Palindo Marine Batam yang seluruh produksinya dikerjakan putra putri bangsa.

Purnomo mengatakan, pembelian KRI Beladau 643 merupakan bagian dari modernisasi Alutsista yang akan terus dilakukan pemerintah serta TNI. Modernisasi itu perlu dilakukan untuk menjaga keamanan negara dan untuk itu harus disediakan anggaran yang cukup. Tahun 2013 ini anggaran untuk Alutsista sebesar 81 triliun rupiah lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang 77 triliun rupiah.

Purnomo berharap, peningkatan anggaran tersebut mampu membuat rencana strategis (renstra) pengadaan minimum essential force (MEF) menjadi hanya dua tahun saja. Semula diperkirakan pengadaan minimum baru tercapai setelah tiga tahun.“Itu dapat membantu pembangunan alutsista yang sifatnya baru,” kata Purnomo.

“Saya nyatakan KCR Beladau resmi menjadi Kapal Perang Republik Indonesia,”  kata Purnomo Yusgiantoro usai penekanan tombol sirine disela-sela upacara peresmian di pelabuhan Batuampar Batam, Senin (25/1).

Danlanal Batam Kolonel Laut (P) Nurhidayat menambahkan, KRI Beladau diproduksi oleh putra putri terbaik bangsa melalui perusahaan dalam negeri yang berada di Batam yakni PT Palindo Marine.
KRI Beladau 643 dilengkapi sistem persenjataan modern (sewaco atau sensor weapon control). Diantaranya meriam kaliber 30 mm enam laras sebagai close in weapon system (CIWS) atau sistem pertempuran jarak dekat. Selain itu, kekhususan senjata kapal yang diproduksi di PT Palindo Marine Shipyard ini adalah keberadaan rudalnya.

Rudal yang terpasang adalah Rudal C-705 buatan China. Kapal ini bisa berlayar dengan kecepatan 30 knot dengan sistem propulasi fixed propeller 5 daun. Kapal perang ini memiliki spesifikasi panjang 44 meter dan lebar 8 meter serta tinggi 3,4 meter.

Sebelumnya, PT Palindo Marine juga menyerahkan dua kapal perang yang dipesan Kementrian pertahanan yakni KRI Kujang termasuk jenis KRC- 40 dan KRI Clurit yang sejenis dengan KRI Kujang ke TNI AL.

Selain membeli persentaan atau kapal perang produksi dalam negeri, Pemerintah juga berencana membeli tiga unit kapal perang dari jenis Multi Role Light Frigate dari Inggris. Meskipun berminat untuk membeli alutsista produksi luar negeri, namun purnomo mengungkapkan harapannya agar Indonesia bisa melakukan alih teknologi, agar suatu saat Indonesia bisa membuat alutsista secara mandiri.

Selain berencana untuk membeli tiga unit kapal perang dari inggris yang akan masuk ke skuad angkatan laut, Indonesia juga akan melengkapi lagi persenjataan tempur angkatan darat.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan kalau Indonesia juga berminat membeli sinper anti tank Inggris. Indonesia kini memang memiliki anggaran cukup besar dalam hal militer, kementrian pertahanan sendiri memiliki anggaran belanja hingga 81 Trilliun rupiah, anggaran sebesar itu, menurut Sjafri akan digunakan untuk memodernisasi peralatan tempur militer tanah air. (gus).

Menjadikan Potensi Industri Galangan Kapal Menjadi Obyek Wisata


 
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sedang mengaji dan mengemas peluang wisata industri galangan kapal di Kota Batam yang jumlahnya mencapai puluhan perusahaan untuk dijadikan sebagai obyek wisata andalan.
 
Gubernur Kepri, H.M Sani mengatakan, Industri galangan kapal yang berdiri di sepanjang bibir pantai Pulau Batam memiliki keunikan sendiri dan cukup prospektif dijadikan obyek wisata yang bisa menarik wisatawan asing untuk berkunjung. Itu juga selaras dengan keinginan Menteri Negara Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya saat berkunjung ke Batam yang menyarankan agar pemerintah daerah mengembangkan pariwisata galangan kapal.

“Wisata galangan kapal bisa dikemas bersama antara wisata pendidikan dan lingkungan, dan itu cukup menarik bagi turis asing untuk berkunjung,” katanya.
 
Ditambahkan, industri galangan kapal dengan puluhan kapal besar bersandar merupakan pemandangan yang indah dan jika ditambah dengan fasilitas bagi turis akan menjadi obyek wisata menarik. Jika pemerintah kota Btam mau mengembangkan galangan kapal menjadi objek wisata, maka akan menambah capaian kunjungan wisatawan mancanegara.

Selama ini, puluhan perusahaan galangan kapal di bibir pantai pulau Batam tidak manfaatkan secara maksimal selain untuk produksi dan perbaikan kapal. Padahal banyak negara yang sudah mengembangkan industri galangan kapal menjadi obyek wisata andalan. Untuk memulainya, harus ada kerjasama antara perusahaan galangan kapal dengan pemerintah.
 
Pemerintah daerah juga harus menyiapkan anggaran untuk membangun sejumlah fasilitas bagi turis di kawasan industri galangan kapal serta membuat paket tour bekerjasama dengan perusahaan pariwisata. Sani optimistis jika dikelola secara professional akan banyak turis yang berkunjung ke kawasan industri galangan kapal tersebut.
 
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Yusfa Hendri mengatakan, ide untuk mengembangkan wisata touring ke industri galangan kapal cukup menarik dan pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan perjalanan pariwisata untuk membuat paket tour tersebut. Hanya saja, pihak perusahaan galangan kapal harus mendukung secara penuh program itu dengan member akses bagi para turis untuk melihat lihat kawasan pembuatan kapal tersebut.
 
Saat ini terdapat lebih dari 70 perusahaan galangan kapal internasional yang berdiri di Batam. Perusahaan tersebut rata rata membuat sekitar 2 hingga 4 kapal ukuran besar setiap tahunnya. Banyaknya perusahaan galangan kapal di Batam menjadikan daerah ini sebagai produsen kapal utama di tanah air dengan nilai ekspor 1,01 miliar dolar AS di bulan pertama tahun 2012.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri Johanes Kennedy mengatakan, di bidang produksi kapal, Batam sudah menjadi leading sector di Indonesia. Produksi kapal-kapal dari Indonesia khusus untuk tugboat dan kapal-kapal kecil sebagian besar dihasilkan galangan kapal di Batam.
Selain untuk ekspor, produksi kapal dari perusahaan yang ada di Batam juga untuk memenuhi pasar Tanah Air. Ia mengatakan, banyak kapal-kapal yang digunakan petugas di bidang kelautan yang menggunakan kapal buatan Batam. Selain itu banyak juga pengusaha bidang kelautan di Indonesia yang mendatangkan kapalnya dari Batam.

Selama ini, kata Jhon belum terpikir oleh pihak swasta untuk mengangkat kawasan industri galangan kapal sebagai obyek wisata yang layak jual. Namun, jika Pemerintah daerah mau mengembangkanya diyakini akan mendapat dukungan dari swasta khusunya pemilik perusahaan galangan kapal.

“Pengembangan industri galangan kapal sebagai obyek wisata merupakan sesuatu yang baru dan mestinya dikemas dengan baik dan perlu dikerjasamakan dengan perusahaan pariwisata mancanegara untuk promosinya,” katanya.

Jhon optimistis wisata galangan kapal bisa mendongkrak kunjungan turis asing ke Kepri karena itu merupakan sesuatu yang baru, ditambah lagi sebagian besar perusahaan galangan kapal berada di bibir pantai yang juga menjadi lokasi pilihan bagi turis asing untuk berkunjung. (gus).

Mendulang Devisa Dari Wisata

 
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) punya setumpuk program di 2013 ini untuk mendatangkan sebanyak banyaknya turis asing, termasuk mengusung tag line wisata “Wonderfull Kepri” yang akan dipromosikan ke sejumlah media asing.
 
Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti mengatakan, industri pariwisata akan menjadi sektor andalan dan masa depan provinsi Kepri karena potensinya yang cukup besar. Potensi yang dimaksud adalah banyaknya obyek wisata yang layak jual dan berkelas dunia seperti wisata pantai, sejarah, budaya dan lainnya. Selain itu, Kepri juga berada dekat dengan Singapura sebagai negara yang paling banyak kedatangan turis asing sehingga jika dibangun hubungan dengan negara itu akan berdampak positif terhadap pertumbuhan pariwisata Kepri.
 
Menjadikan pariwisata sebagai sector andalan masa depan tidaklah berlebihan, kata Guntur sebab setiap tahun pendapatan dari sektor itu cukup tinggi dan terus meningkat dipicu makin banyaknya jumlah kunjungan turis asing. Sepanjang tahun 2012 saja jumlah kunjungan turis asing ke Kepri mencapai 1,7 juta orang dan tahun 2013 ini ditargetkan naik 16,2 persen menjadi 1,98 juta orang.
 
“Kondisi ekonomi global tahun 2013 diperkirakan membaik sehingga banyak orang akan membelanjakan uangnya dan salah satunya berwisata, untuk itu kami membenanhi infrastruktur dan destinasi wisata yang ada agar jumlah kunjungan turis asing ke Kepri naik,” katanya.
 
Jumlah itu masih terbilang kecil, jika dibanding dengan potensi yang dimiliki Kepri. Contohnya saja jika Kepri bisa memanfaatkan kunjungan turis asing ke Singapura yang jumlahnya mencapai puluhan juta setiap tahun maka daerah ini bisa mendapatkan manfaatnya. Hanya saja, perlu ada kerjasama dan kesiapan infrastruktur untuk merealisasikannya.
 
Kerjasama Singapura dan Kepri di sektor pariwisata bisa dilakukan karena selama ini hal itu sudah terjadi hanya saja yang melakukan kerjasama adalah para pelaku atau pengusaha pariwisata di Kepri dan Singapura. Contohnya, banyak pengusaha hotel di Singapura yang membuka resort di Kepri seperti kawasan wisata Lagoi dan Batam, lalu turis yang berkunjung ke Singapura juga mendapatkan paket menginap di sejumlah resort yang ada di Lagoi dan Batam.
 
Contoh lainnya, lomba kapal layar atau “Clipper Round the World yang setiap tahun diselenggarakan badan promosi pariwisata Singapura selalu menjadikan perairan Batam sebagai lintasannya dan para peserta juga di inapkan di sejumlah resort di Batam.
 
Terlebih potensi pariwisata Singapura tidaklah sama dengan yang dimiliki Kepri. Obyek wisata di Singapura sebagian besar buatan manusia seperti Universal Studios Singapore, Resort World Sentosa, Madagascar, The Lost World , Ancient Egypt, dan Sci-fi. Kemudian Singapore Botanical Gardens, Boat Quay and Clarke Quay dan Singapore Flyer.
 
Sementara itu, Kepri lebih mengandalkan obyek wisata alami seperti keindahan laut, pantai dan wisata budaya serta sejarah. Kondisi itu bisa saling menunjang kedua daerah untuk dapat melanjutkan kerjasama menjaring turis asing untuk berkunjung.
Menurut Guntur, salah satu faktor yang masih menghambat pertumbuhan industri di Kepri adalah infrastruktur yang belum siap. Selain itu, masih banyak obyek wisata yang layak jual belum dikelola secara professional. Padahal, pemerintah daerah mengalokasikan dana cukup besar untuk mempromosikan pariwisata Kepri ke mancanegara termasuk mengusung tag line “Wonderful Kepri” yang menjadi iklan di sejumlah media asing.

Country Manager Visit Indonesia Tourism Officer (Vito) Singapura, Sulaiman Shehdek ketika berkunjung ke Batam mengatakan, Singapura masih menjadi pasar potensial bagi Indonesia begitupun sebaliknya. Tahun 2013 ini saja diperkirakan turis dari Singapura ke Indonesia sebanyak 1,75 juta orang dan 700 ribu diantaranya akan masuk ke Kepri.
 
“Warga Singapura yang ke Kepri khususnya Batam banyak yang belanja sehingga daerah ini perlu membenahi wisata belanjanya untuk menarik turis dari Singapura sebanyak banyaknya,” katanya.
 
Menurutnya, untuk mendorong semakin banyak warga Singapura yang berkunjung ke Indonesia atau Kepri maka Pemerintah provinsi Kepri jangan hanya terpaku dengan destinasi wisata yang sudah ada, tetapi diharapkan juga mampu melakukan inovasi dan membenahi destinasi wisata lainnya yang belum dikelola.
 
Guntur Sakti menyebut pihaknya sudah punya setumpuk program pada tahun ini untuk mendatangkan turis asing diantaranya, menyiapkan sejumlah festival internasional, membangun pasar baru kesejumlah negara potensial, meningkatkan anggaran promosi dan menjual obyek wisata baru. Selain itu, sejumlah hotel dan resort baru juga akan dibangun untuk mengantisipasi naiknya jumlah kunjungan turis.
 
Wakil Bupati Bintan, Khazalik menambahkan, Pemerintah Kabupaten Bintan dan investor akan membangun sekitar 300 resort di kawasan wisata Lagoi khususnya treasure bay dan Tanjung Berakit selama lima tahun kedepan untuk mengantisipasi semakin banyaknya turis asing yang berkunjung ke daerah itu.
 
“Saat ini sudah ada sejumlah resort berkelas internasional yang dibangun investor asing di Bintan khususnya Lagoi dan permintaan terus meningkat sehingga makin banyak investor yang tertarik membangun resort,” katanya.
 
Menurut Khazalik sudah ada sejumlah investor asing yang akan membangun resort baru di Bintan dan diperkirakan dalam lima tahun kedepan akan dibangun sekitar 300 resort baru yang akan memperkerjakan lebih dari 600 karyawan lokal. Untuk itu, Pemkab Bintan sudah mengalokasikan lahan seluas 2.300 hektare untuk dibangun resort dan mengembangkan industri pariwisata di Bintan.
 
Dengan dikembangkanya industri pariwisata di Bintan maka diharapkan kontribusi sector pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah terus meningkat dan saat ini baru sekitar 55 miliar rupiah setiap tahunnya ditambah dari pemasukan dii pelabuhan sekitar 3 miliar rupiah.  Saat ini baru terdapat 1.100 kamar di kawasan wisata Lagoi, dan 500 kamar di kawasan wisata Trikora Kabupaten Bintan dan jumlahnya akan terus ditingkatkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Yusfa Hendri mengatakan, tahun 2013 ini pihaknya akan memproyeksikan pengembangan wisata belanja sehingga banyak pusat perbelanjaan yang dibangun di Batam. Selain itu wisata convention dan meeting juga terus ditingkatkan berbarengan dengan didirikannya banyak hotel serta resort.
 
Selain membenahi destinasi wisata, kata Yusfa, Batam juga memiliki banyak agenda atau event kegiatan nasional dan internasional yang diharapkan bisa memicu kedatangan turis asing ke daerah ini.
 
“Salah satu destinasi wisata yang sedang kami benahi adalah Pulau Abang yang memiliki keindahan bawah laut menakjubkan dengan terumbu karang serta ikan langka sehingga tempat ini sangat cocok dijadikan area diving dan snorkeling,” katanya.
 
Pemerintah Provinsi Kepri sendiri berharap target kunjungan turis asing sebanyak 1.975.000 orang tahun ini diperoleh dari empat pintu masuk utama yakni Batam yang tetap menjadi andalan dengan target 1.250.000 orang, Bintan 500 ribu orang dan  Karimun 115 ribu orang serta Tanjungpinang, 110 ribu orang. (gus).

Kepri akan Bangun Pusat Rehabilitasi Pencandu Narkotika



BATAM - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepulauan Riau (Kepri) akan membangun pusat rehabilitasi pencandu Narkotika di Batam untuk membantu para pencandu lepas dari ketergantunganya terhadap Narkotika seiring tingginya jumlah penyuka barang terlarang tersebut.

Kepala BNNP Kepri, Drs. Benny Setiawan mengatakan, jumlah pecandu Narkotika di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat setiap tahunnya dan sejak tahun 2011, Kepri menempati urutan kedua setelah DKI Jakarta sebagai daerah dengan jumlah pecandu Narkotika terbesar di tanah air berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh BNN pusat bersama dengan Universitas Indonesia pada tahun 2011.

 “Angka kematian akibat Narkotika di Kepri sangat tinggi dan sebagian besarnya adalah generasi muda sehingga perlu upaya menyelamatkan mereka dari ketergantungan terhadap Narkotika,” katanya, Rabu (23/1).

Oleh karena itu, sudah saatnya didirikan lembaga pusat rehabilitasi pencandu narkotika di Kepri untuk membantu para penyuka barang terlarang itu sembuh sekaligus untuk menekan angka kematian akibat Narkotika di Kepri.

Selama ini, pecandu Narkortika di Kepri yang ingin diobati harus dikirim ke  pusat rehabilitasi di Lido, Jawa Barat. Kondisi itu menyebabkan perhatian dari keluarga sangat minim karena jarak yang jauh. Namun pada tahun ini juga diharapkan sudah tersedia pusat rehabilitasi tersebut karena BNNP Kepri telah memperoleh lahan yang luasnya mencapai 2,5 Hektar dan sebanyak 500 meter per segi akan dibangun pusat rehabilitasi bagi para pencandu narkotika.
Diharapkan dengan dibangunya pusat rehabilitasi tersebut, masyarakat dapat membawa anggota keluarganya yang mengalami ketergantungan terhadap Narkotika untuk disembuhkan. Selama ini, masih ada budaya malu dan kesadaran yang rendah dari masyarakat untuk mengaku sebagai pencandu narkortika.
Padahal, seluruh biaya rehabilitasi para pencandu Narkotika hingga sembuh ditanggung oleh pemerintah melalui BNN. Sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak membawa anggota keluarganya berobat dan lepas dari ketergantungan terhadap Narkotika.
"Kita menjamin bagi masyarakat yang mau direhabilitasi tidak akan ditangkap sama polisi dan identitasnya juga dirahasiakan. Program rehabilitasi ini juga telah di atur oleh Undang-Undang no 35 tahun 2009 bahwa seorang pecandu narotika berhak untuk di rehabilitasi," katanya. (gus).