Minggu, 17 Februari 2013

Apa Kabar KAPET Natuna


Kepulauan Natuna termasuk Anambas merupakan daerah terluar yang langsung berhadapan dengan negara tetangga, memiliki potensi geografis yang sangat strategis dan kaya dengan sumber daya alam minyak serta gas. Oleh karenanya, Natuna dimasukan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) pada tahun 1996 karena dinilai berpotensi cepat tumbuh.

Tidak berhenti hanya sampai di Pulau Batam, Mantan Presiden Soeharto cukup jeli melihat potensi ekonomi yang ada di Kepulauan Natuna sehingga jika Batam ditetapkan sebagai Kawasan Pelabuhan dan Perdagangan Bebas maka Natuna pada tahun 1996 ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) dengan pertimbangan bahwa Natuna memiliki potensi untuk cepat tumbuh dan mempunyai sector unggulan yang dapat menggerakan ekonomi di wilayah sekitarnya sehingga butuh investasi yang besar bagi pengembanganya dan butuh dorongan yang lebih besar dari pemerintah pusat untuk mempercepat pertumbuhanya.

Untuk itu, Mantan Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden nomor 71 tahun 1996 tentang Pengembangan Pulau Natuna sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet).  Satu hal yang terpenting dalam Kepres tersebut adalah dibentuknya Badan Pengelola Pengembangan Pulau Natuna yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden dengan maksud untuk efisiensi birokrasi.

Setelah 16 tahun berjalanya Kapet di Natuna tidak banyak yang berubah dari daerah ini. Masyarakat masih sulit untuk bepergian ke luar Natuna karena transportasi udara kadang beroperasi kadang tidak. Untuk menggunakan transportasi laut pun masih sangat tergantung pada cuaca sebab jika ombak tinggi maka kapal tidak berani beroperasi. Alhasil pasokan kebutuhan pokok sering terhambat menyebabkan harganya selangit. Pertumbuhan industri pun tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena sampai saat ini hanya ada beberapa perusahaan saja yang mengolah minyak dan gas di Natuna.

Sejumlah tokoh masyarakat Natuna berkeluh kesah dengan kondisi di daerahnya. Seperti Kepala Desa Teluk Buton Kecamatan Bunguran Utara, Bahrun yang mengeluh karena jalan di daerahnya belum juga dibangun meski sudah di usulkan Musrenbang. Kemudian, Kepala Desa Pengadah Kecamatan Bunguran Timur Laut, Zamri Harun juga mengeluh karena tidak adanya insfrastruktur jalan yang yang memadai di desanya. Padahal, keberadaan jalan yang menjadi dambaan warga sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat.

Tokoh Pemuda yang juga Pemerhati Ekonomi Natuna, Rikyriovsky mengatakan, potensi ekonomi Natuna selama ini terabaikan dan tidak member dampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. Padahal dengan potensi yang ada ditambah lagi dengan status yang diberikan pemerintah pusat kepada Natuna sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu, mestinya menjadi stimulus untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Terlebih APBD Natuna cukup besar lebih dari satu triliun rupiah setiap tahunnya dengan jumlah penduduk hanya beberapa puluh ribu orang saja.
Bupati Natuna, Ilyas Sabli mengatakan, APBD Natuna memang terus meningkat setiap tahunnya, jika pada tahun 2011 hanya 1,15 triliun rupiah, maka tahun 2012 ini menjadi 1,3 triliun rupiah. Sayangnya sebagian besar angaran tersebut masih digunakan untuk belanja rutin bukan untuk investasi atau membangun infrastruktur.

“Pembangunan ekonomi Natuna akan dimulai dari desa dan setiap desa mendapat anggaran 750 juta rupiah setiap tahunya untuk melaksanakan berbagai program pembangunan,” katanya.

Meski demikian, Ilyas tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Natuna kedepanya karena setiap tahun angkanya mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2011 saja, pertumbuhan ekonomi Natuna mencapai 6,41 persen lebih tinggi dibanding 2010 yang 6,25 persen.

Rikyriovsky mengatakan, mestinya angka pertumbuhan ekonomi Natuna bisa lebih dari 10 persen didukung dengan potensi yang dimiliki daerah ini. Sayangnya, pemerintah daerah dinilai lamban menggerakan ekonomi daerah dan Pemerintah pusat pun tidak lagi peduli pada program Kapet yang telah digagas Mantan Presiden Soeharto. Padahal, sebagai halaman depan negara ini karena Natuna berbatasan langsung dengan negara tetangga, mestinya daerah ini dijaga dan dirawat dengan baik. (gus).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar