Selasa, 12 Februari 2013

Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2012 Diperkirakan Tak Capai Target



BATAM – Bank Indonesia (BI) Batam memperkirakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau 7,51 persen sepanjang 2012, lebih rendah dibanding target Pemerintah Provinsi Kepri yang lebih dari 8,0 persen disebabkan melemahnya kinerja ekspor.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Batam, Amanlison Sembiring mengatakan, sepanjang tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) diperkirakan berada dikisaran 7,51 persen hingga 8,01 persen. Angka 7,51 persen lebih mudah dicapai disebabkan kinerja perekonomian kuartal empat melambat sehingga angka pertumbuhanya berada dikisaran 7,61 persen plus minus satu persen. Sedangkan angka 8,01 persen merupakan target optimistis yang sulit dicapai karena kinerja ekspor diperkirakan masih melambat akibat belum pulihnya permintaan dari pasar Eropa dan Amerika Serikat.

“Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 dinilai cukup positif meski belum mencapai target, dan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 diprediksi lebih rendah disbanding 2012,’ katanya, Rabu (5/12).

Dijelaskan, akselerasi tertinggi pertumbuhan ekonomi di triwulan IV 2012 diperkirakan berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran seiring dengan peningkatan aktivitas masyarakat pada musim libur akhir tahun. Sedangkan pendorong ekonomi utama masih berasal dari sector industri yang tumbuh 6,31 persen (yoy).
Meski sector industri  dan perdagangan serta hotel dan restoran mengalami pertumbuhan, namun masih belum cukup mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih besar disebabkan ekspor yang melambat.

Berdasarkan catatan BPS, kinerja ekspor Kepri sepanjang tahun ini mengalami perlambatan. Pada kuarltal dua 2012 kinerja ekspor 6,83 persen lalu turun menjadi 2,44 persen di kuartal tiga 2012. Turunya kinerja ekspor disebabkan masih lemahnya permintaan dari pasar Eropa dan Amerika Serikat dipicu perbaikan ekonomi yang belum tuntas di negara tersebut.

Ketua Apindo Kepri, Ir Cahya mengatakan, selain kinerja ekspor yang melambat, tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi tahun 2012 disebabkan kontribusi sektor industri yang menjadi penyumbang utama mengalami kontraksi disebabkan banyak faktor. Salah satu faktornya adalah langkah sejumlah perusahaan yang menutup pabriknya di Batam karena iklim investasi yang kurang kondusif. Itu disebabkan situasi ketenagakerjaan dan tidak adanya kepastian hokum.

Kondisi itu, kata Cahya akan berlangsung hingga tahun depan disebabkan kebijakan Pemerintah Kota Batam yang mengajukan UMK lebih dari 2 juta rupiah atau naik hingga 56 persen. Kebijakan yang mendapat pertentangan dari dunia usaha tersebut dikuatirkan bisa berdampak pada penutupan beberapa pabrik karena tidak mampu membayar gaji pegawai. Akibatnya, semakin banyak jumlah pengangguran dan kinerja ekspor pun bakal anjlok.

Sebelumnya, Gubernur Kepri HM Sani merasa optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2012 ini mencapai  lebih dari 8,0 persen. Itu didasari atas makin membesarnya anggaran yang dimiliki pemerintah daerah. Jika pada 2004 APBD Kepri hanya 192 miliar rupiah, maka pada tahun 2005 menjadi 500 miliar rupiah dan tahun 2012 menjadi 2,4 triliun rupiah.

Sayangnya, berdasarkan catatan BI Batam, sebagian besar APBD yang dimiliki Kepri hanya digunakan untuk belanja rutin seperti gaji pegawai dan membiayai kegiatan seremonial yang tidak berdampak positif terhadap perekonomian warga. Akibatnya, kondisi infrastruktur di Kepri hingga saat ini masih dalam kondisi menyedihkan khususnya di daerah perbatasan dengan negara lain yang belum ada akses transportasi hingga saat ini.

Berdasarkan catatan keuangan daerah, dari Target Penerimaan Anggaran 2012 sebesar 2,038 triliun rupiah, seluruhnya digunakan untuk belanja (langsung dan tidak langsung). Ironisnya, total target anggaran belanja tahun 2012 sebesar 2,4 triliun rupiah. Dengan demikian, meski seluruh penerimaan daerah telah digunakan untuk belanja, namun masih belum cukup untuk membiayai belanja secara keseluruhan. Bahkan Kepri mengalami defisit sekitar 4 miliar rupiah. (gus).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar