Selasa, 12 Februari 2013

Soal Tanaman Sorgum



Peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan BPTP Provinsi Jambi, Djon Hendri mengatakan, budi daya tanaman sorgum belum dilakukan secara maksimal di tanah air karena pasarnya masih terbatas sehingga petani atau masyarakat masih enggan melakukan budidaya secara optimal. Padahal, tanaman sorgum sangat berpotensi untuk menggantikan gandum namun belum banyak masyarakat yang mengetahui hal itu.

Saat ini, kata Djon ada tiga jenis sorgum yang dibudidayakan di Indonesia yakni Sorgum biji (grain sorgum) yang digunakan untuk pangan dan pakan ternak serta bahan baku industri pembuatan minuman dan bio-etanol, kemudian Sorgum sapu (broom corn) tangkai malainya di buat untuk bahan pembuatan sapu dan ketiga Sorgum manis (sweet sorgum) cairan batangnya digunakan untuk bahan baku pembuatan sirup atau bahan baku penbuatan etanol.

”Harus ada kemauan politik yang kuat dari pemerintah untuk pengembangan tanaman sorgum dan itu tidak hanya sebatas budidaya saja tetapi marketnya juga harus jelas sehingga petani mau mengoptimalkan lahanya untuk budidaya sorgum,’ kata Djon Hendri kepada Koran Jakarta, Selasa (13/11).

Dari ketiga jenis atau varietas sorgum tersebut yang paling banyak dibudidayakan adalah sorgum untuk pakan ternak dan itu banyak dikembangkan di Provinsi Lampung, dan sejumlah daerah di Indonesia bagian timur seperti Sulawesi Selatan, NTB dan lainnya. Selain itu, di Provinsi Jawa Timur seperti di Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Pacitan dan Madura juga sudah banyak dikembangkan sorgum untuk pakan ternak.

Menurut Djon, dari segi syarat pertumbuhan sebenarnya hampir seluruh daerah di Indonesia bisa dikembangkan tanaman sorgum karena tanaman ini membutuhkan iklim dengan intensitas hujan rendah. Sayangnya belum banyak petani yang mengenal tanaman sorgum dengan baik, dan selama ini petani hanya mengenal sorgum untuk pakan ternak. Padahal riset yang dilakukan ahli pertanian sudah menemukan varietas sorgum untuk pengganti gandum. Kandungan gula ( brix) sorgum tersebut sampai 20 persen.

Secara spesifik, sorgum dapat tumbuh pada semua jenis tanah asal solum cukup tebal  sekitar 15 centimeter dengan pH tanah 5 – 7,5, minimal curah hujan 50 – 100 mm per  bulan pada 2,5 bulan pertama dan kering pada saat menjelang panen untuk pertanaman sorgum dilahan sawah bekas tanaman padi, biasanya hanya mengandalkan residu air tanah, namun sebaiknya ditambah dengan pengairan 4-5 kali selama musim tanam agar mendapatkan hasil yang optimal.
Pola tanam di lahan sawah padi – padi – sorgum , atau jagung – padi – sorgum. Dilahan tegal sorgum biasa ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain dan banyak yang ditanam dipinggir petakan.
 
“Sorgum cocok ditanam di dataran rendah 1 -1300 meter dari permukaan laut, suhu udara lebih dari 20 derajat celcius. Pada dataran menengah keatas umur tanaman akan lebih panjang. Bila cuaca mendung dan berkabut sehingga penyinaran matahari tidak sempurna pembungaan akan terganggu.
 
Kemudian dari segi benih, untuk memperoleh hasil yang baik maka dibutuhkan benih yang bermutu yakni daya tumbuh lebih dari  90 persen dan bebas dari hama dan penyakit, kebutuhan benih sekitar 15 kilogram per hektar, namum sebaiknya dilebihkan karena dengan cara tanam diicir, kemudian diperjarang saat tanaman umur 10 hari sampai 2 minggu bersamaan dengan penyiangan pertama. (gus).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar